Catherine Benethan - Desain Interior

A RIDE ON THE WIND

Nama : Catherine Benethan
Universitas : Universitas Tarumanegara
Jurusan :
Tema : A RIDE ON THE WIND
Penghargaan : Honorary Mention, 2019
Kategori : Desain Interior

Project Description

“A Ride on The Wind”, Museum Layang-layang Indonesia

No

Pertanyaan

Pernyataan

1

Apa inspirasi dibalik perancangan karya ini?

Inspirasi karya diambil dari salah satu fenomena yang terjadi pada masyarakat, yaitu permainan tradisional mulai ditinggalkan oleh masyarakat seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Salah satu permainan tradisional yang mulai ditinggalkan adalah permainan layang-layang. Keberadaan Museum Layang-layang Indonesia ditujukan untuk mempertahankan budaya permainan tradisional layang-layang, namun masyarakat belum memiliki ketertarikan yang tinggi untuk mengunjungi museum, dikarenakan asumsi mereka mengenai museum yang membosankan, tidak menarik, dan tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan di museum. Bagaimana caranya mempertahankan permainan tradisional layang-layang apabila solusinya mengalami hal yang sama? Untuk itu, dilakukan perancangan ulang terhadap Museum Layang-layang Indonesia, yang diharapkan dapat mengubah pandangan masyarakat terhadap museum dan juga permainan tradisional itu sendiri.

2

Bagaimana cara desain Anda bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya?

Desain ini ditujukan untuk segala usia dan golongan masyarakat. Tidak hanya untuk konservasi dan edukasi, museum juga dapat digunakan untuk rekreasi. Masyarakat sekitar dapat memanfaatkan fasilitas museum di luar kebutuhan edukasi, seperti relaksasi, meeting, workshop, juga bermain layang-layang bersama.

3

Apa konsep dan gaya desain Anda?

Konsep museum yang ingin ditampilkan adalah museum yang berinteraksi langsung dengan pengunjung, mampu memberikan pengalaman bukan hanya pengetahuan, dan menarik (fotogenik).

Berdasarkan hasil analisis terhadap citra museum dan permainan layang-layang, didapatkan tema “A Ride on The Wind” yang berarti konsep desain interior yang mengandaikan pengunjungnya berada di sebuah tumpangan di atas angin/langit. Konsep angin diterjemahkan ke dalam elemen-elemen interior, yang diharapkan mampu menciptakan suasana dinamis. Di dalam perancangan juga menggunakan elemen-elemen alam, untuk menghidupkan suasana permainan layang-layang yang dimainkan di alam terbuka.

Citra yang ingin ditampilkan dalam perancangan adalah interaktif, atraktif, dan imajinatif. Untuk menciptakan citra tersebut, didukung dengan konsep museum yang tidak hanya mengedukasi, tetapi juga memberikan pengalaman melalui teknologi-teknologi (seperti VR dan AR) museum yang mengajak pengunjung untuk berinteraksi langsung.

Museum Layang-layang Indonesia meninggalkan konsep display 2D dan 3D. Tidak hanya melihat, membaca, dan bergerak, pengunjung dapat merasakan melalui panca indra pendengar, penghidu, dan peraba (4D). Museum dirancang untuk mengembalikan memori dan perasaan ketika bermain layang-layang.

Gaya desain yang digunakan adalah neo futurism-rustic.

4

Apa alasan dibalik pemilihan warna dan skema warna Anda?

Warna-warna yang digunakan terinspirasi dari warna alam yang mampu membangkitkan suasana hangat dan kebersamaan, seperti permainan layang-layang yang dimainkan bersama-sama di alam terbuka. Selain itu, warna-warna ini dapat membuat pengunjung lebih relaks.

Pada ruang pameran, warna dominan abu-abu seperti angin, untuk menonjolkan koleksi layang-layang yang dipamerkan.

5

Apa pendekatan ramah lingkungan dalam hal konsep desain, material, perawatan, penggunaan energi, air, pengaturan sampah, dll?

Pendekatan ramah lingkungan mengutamakan pemanfaatan pencahayaan dan penghawaan alami. Pencahayaan alami didapatkan dari atap kaca pada beberapa ruang museum. Material-material yang digunakan juga memperhatikan sifat sustainable dan ramah lingkungan.

6

Apa dan siapa yang mempengaruhi desain Anda?

Aspek utama yang memengaruhi garis besar desain adalah bagaimana cara menarik perhatian masyarakat untuk mengunjungi museum dan melestarikan permainan tradisional layang-layang. Pihak yang mejadi pengaruh pada perancangan desain adalah pengunjung dan pengelola museum.

7

Bagaimana pendekatan Anda dalam meneliti isu ini?

Metode yang dilakukan dalam perancangan Museum Layang-layang Indonesia adalah metode programatik, yaitu mengidentifikasi permasalahan pada suatu proyek perancangan, dengan cara mengumpulkan data, menganalisis, kemudian menjawab permasalahan dengan konsep desain.

8

Siapa yang didekati untuk meneliti isu ini?

Selama meneliti projek ini, pihak – pihak yang menjadi sumber informasi utama yaitu pengelola Museum Layang-layang Indonesia.

9

Rangkaian pertanyaan yang ditanyakan saat melakukan penelitian ini?

Pertanyaan yang diajukan berupa kondisi fisik museum, informasi mengenai pengunjung, fasilitas museum, dan data-data museum yang dapat membantu proses perancangan.

10

 Apakah metode penelitian yang digunakan?

Metode pengumpulan data terdiri dari studi literatur dan studi lapangan. Studi literatur dilakukan dengan cara mencari referensi teori yang relefan dengan kasus atau permasalahan perancangan interior Museum Layang-layang Indonesia.

Metode analisis data menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif dan menggunakan landasan teori yang faktual.

11

Penemuan apa saja yang didapatkan dari penelitian?

Museum juga harus mengikuti perubahan gaya hidup manusia dan memperhatikan fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat. Fungsi museum tidak hanya sebagai pusat konservasi dan edukasi, tapi juga memenuhi kebutuhan manusia dalam sosial dan rekreasi. Konsep museum ke depannya tidak hanya melihat dan membaca, tetapi juga mendengar, merasakan, dan melakukan. Display museum tidak lagi memberikan informasi secara 2D ataupun 3D, tapi 4D.

Presentation Board