Hilda Averina - Desain Interior

PERANAKAN HERITAGE

Nama : Hilda Averina
Universitas : Universitas Tarumanagara
Jurusan : Desain Interior
Tema : PERANAKAN HERITAGE
Penghargaan : Honorary Mention, 2018
Kategori : Desain Interior

Project Description

Apa inspirasi di balik perancangan karya ini?
Perancangan terinspirasi dari keadaan sosial dan kebudayaan di Indonesia, di mana budaya Peranakan Tionghoa kurang dikenal masyarakat lokal, khususnya generasi milenial. Padahal budaya ini memainkan peran yang cukup penting dan telah memengaruhi budaya di Indonesia selama berabad-abad. Dengan perancangan interior yang baik, proyek ini dapat memberikan banyak manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar, sekaligus menjadi cultural asset yang berharga bagi Indonesia.

Bagaimana cara desain Anda bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya?
Desain ini menggunakan material ramah lingkungan yang mampu mempertahankan kualitasnya untuk bertahun-tahun ke depan, dan telah menyesuaikan dengan kondisi iklim tropis di Indonesia. Dalam konteks fungsi proyek, desain bermanfaat untuk melibatkan masyarakat dalam pengalaman kuliner berbudaya Peranakan Indonesia yang unik, dan berbagai educational event serta workshop bertema budaya Peranakan.

Apa konsep dan gaya desain Anda?
Perancangan mengambil inspirasi dari burung Phoenix (fenghuang) sebagai tema utama. Phoenix adalah makhluk mitologis yang diagungkan oleh masyarakat Tionghoa sejak zaman dahulu, dan kepercayaan ini dibawa sampai ke Indonesia, diwariskan ke dalam kultur dan kesenian Peranakan Indonesia hingga saat ini. Masa kini, di mana bidang kesenian mulai booming di Indonesia – penting untuk tidak melupakan nilai-nilai historis dan mengaplikasikannya pada seni gaya kontemporer abad 21. Perancangan dengan memakai konsep phoenix budaya Peranakan Tionghoa-Indonesia, dikombinasikan dengan gaya desain kontemporer dan elemen-elemen desain yang tepat, dapat menghasilkan suatu interior yang unik dan fresh, sebagai active design yang membawa pengaruh baik kepada masyarakat lokal maupun internasional, serta tak lekang oleh waktu.

Apa alasan di balik pemilihan warna dan skema warna Anda?
Pemilihan skema warna pada proyek ini adalah menggunakan visualisasi warna phoenix pada literatur Cina, yaitu terdiri dari 5 warna kardinal: putih, hitam, biru/ hijau, merah, dan kuning. Dari lima warna tersebut, saya menggunakan teknik kombinasi warna extended-analogous. Yang tidak kalah penting, saya terinspirasi dari ciri khas site project bangunan ‘Toko Merah’, yaitu dinding eksterior batu bata merah yang mencolok. Warna merah yang identik tersebut menjadi kunci warna utama, mengingat warna itu juga merupakan warna yang paling populer bagi masyarakat Tionghoa. Untuk menyesuaikan dengan warna merah, diambil palet warna warm tones, dengan sedikit aksen warna hijau kebiruan (tosca) atau emas untuk melengkapi perancangan dan berkesan luxurious.

Apa pendekatan ramah lingkungan dalam hal konsep desain, material, perawatan, penggunaan energi, air, pengaturan sampah, dan lain-lain?
Pendekatan dalam konteks green design, ditunjukkan dengan strategi perancangan yang menggunakan mantra reduce, re-use, dan recycle. Langkah pertama adalah dengan merevitalisasi bangunan Toko Merah untuk proyek ini, daripada meruntuhkan dan membangun ulang bangunan. Adapun elemen-elemen yang perlu diperhatikan dalam perancangan yaitu: pencahayaan, penghawaan, material, hingga sistem mekanisme air dan listrik. Memanfaatkan pencahayaan alami, terdapat banyak jendela berukuran besar, courtyard, dan halaman hijau di belakang bangunan. Untuk penghawaan, terdapat ventilasi pada setiap ruangan, dan juga terdapat void. Sistem penampungan air menggunakan metode ‘ferro-cement’ yang mendaur ulang air hujan sebagai sistem pengairan bangunan, serta sistem solar hot water heating. Aktivasi energi listrik dengan menggunakan sistem photovoltaic dengan sensor cahaya matahari untuk menyalakan lampu dan lainnya. Untuk material bangunan, menggunakan berbagai material canggih yang tahan lama, non-toxic, cost-friendly, dan mudah didaur ulang ketika usia penggunaannya sudah hampir berakhir. Contohnya, sebagai pengganti bahan besi dengan tampilan kayu, menggunakan wood plastic composite (WPC) Indonesia yang terbuat dari 70% kayu hutan dan 30% bahan tambahan. Untuk sistem pengurangan sampah konstruksi dan komersil, proyek mengaplikasikan sitem periklanan digital melalui pemasangan LED screen daripada flyer/poster.

Apa dan siapa yang mempengaruhi desain Anda?
Aspek-aspek yang mempengaruhi desain ini adalah: Struktur dan fisik asli bangunan Toko Merah, lingkungan sekitar (khususnya arsitektur interior bangunan di Indonesia), serta seni dan budaya Peranakan di Indonesia dengan pembandingnya, yaitu di Singapura dan Malaysia. Pihak yang memberi pengaruh pada desain saya adalah Thomas B. Ataladjar sebagai penulis buku biografis ‘Toko Merah: Saksi Kejayaan Batavia Lama’ serta Adolf Heuken dengan karyanya, ‘Historical Sites of Jakarta’. Selain itu, banyak literatur tentang rumah Peranakan digunakan, tidak lupa banyak kritik dan saran dari dosen pembimbing dan penguji.

Bagaimana pendekatan Anda dalam meneliti isu ini?
Pendekatan yang saya gunakan untuk meneliti masalah ini adalah, melalui social observing, melihat dan mendiskusikan isu yang nyata saat ini pada masyarakat dan lingkungan sekitar, diperkuat dengan motivasi mencari solusi nyata berelemen green design terhadap masalah tersebut.

Siapa yang didekati untuk meneliti isu ini?
Pihak yang didekati untuk meneliti isu ini adalah teman-teman yang juga meneliti budaya Peranakan, serta dosen-dosen yang lebih berpengalaman.

Apakah metode penelitian yang digunakan?
Metode studi literatur melalui banyaknya jumlah kajian pustaka yang relevan, serta observasi langsung. Dua metode tersebut sangat penting untuk menghasilkan desain yang real dan otentik, sesuai dengan sejarahnya. Data-data diolah dan selanjutnya menjadi konsep desain.

Penemuan apa saja yang didapatkan dari penelitian?
Ditemukan bahwa berikut merupakan ciri khas desain otentik Peranakan Tionghoa-Indonesia, yaitu; arsitektur bergaya Indische-Style, ornamen Cina, dan koleksi kesenian Indonesia. Banyak desainer interior yang kurang tepat merancang interior bertema Peranakan Indonesia karena kurang memahami inti dari desain tersebut. Perancangan yang tepat memberikan edukasi dan wawasan kepada masyarakat. Serta dipelajari bagaimana mengaplikasikan konstruksi interior yang canggih, kontemporer, dan ramah lingkungan.

Presentation Board