Ikbal Hafidzin - Arsitektur

TERAS – SHARING: A Place for Sharing Culture of Sharing

Nama : Ikbal Hafidzin
Universitas : Universitas Gunadarma
Jurusan : Arsitektur
Tema : TERAS – SHARING: A Place for Sharing Culture of Sharing
Penghargaan : Honorary Mention, 2017
Kategori : Arsitektur

Project Description

Inspirasi karya berawal dari sebuah isu mengenai trend ruang kerja bersama dengan mengusung konsep open plan yaitu coworking space, dimana ruang kerja tidak lagi bersifat formal, berskat – skat ataupun masive . Di indonesia , coworking space hadir untuk memfasilitasi startup muda, freelancer & orang – orang yang ingin membuat atau mengembangkan perusahaannya dengan skala kecil. Padahal arti dari coworking space sendiri adalah ruang kerja bersama yang seharusnya dapat digunakan siapa saja. Hubungan dengan tema AYDA 2017 “You for Tomorrow” saya sebagai generasi muda mencoba merubah stigma hadirnya cowork di Indonesia melalui arsitektur. Bagaimana fungsi tersebut dapat berdampingan dengan fungsi lainnya pada konteks tertentu. Harapannya desain ini mampu merespon kebutuhan dengan penyesuaian target terhadap konteks, mampu beradaptasi dengan kegiatan setempat seperti pelaku ekonomi, komunitas , masyarakat & mencoba menghadirkan nilai – nilai lokal dan perangkul kekinian.

Pergeseran nilai – nilai lokal dimasa yang akan datang tidak bisa dihindari. Hal tersebut dipicu oleh perkembangan teknologi yang mempengaruhi pola hidup masyarakat menjadi antisosial. Hal tersebut menjadi sebuah dasar pemikiran bagaimana sebuah desain dapat hadir sebagai sebuah solusi permasalahan yang ada, baik secara fisik bangunan, penataan ruang maupun esensi ruang yang menghadirkan nilai – nilai lokal dalam setiap kegiatan di dalamnya.

Teras merupakan salah satu solusi utama dalam perancangan desain ini. Karena “teras merupakan sebuah identitas arsitektur ruang tradisional & vernakular Indonesia -Ardhyasa Fabrian Gusma” yang mempunyai prinsip ruang sebagai ruang penerima, ruang bersama, ruang transisi dan ruang sosial. Dalam desain ini, konsep teras dimunculkan sebagai ruang berbagi yaitu ruang yang dapat menjembatani unsur – unsur lokal pada konteks terhadap desain. selain itu kata “teras” sangat kental dengan daerah Jogjakarta baik secara Filosofi, fungsi maupun esensi dari kebiasaan masyarakat jogja yang sangat akrab dengan nuansa outdoor dan open plan.

Konsep desain yang ditawarkan adalah Arsitektur Kontemporer. Dimana arsitektur yang melihat masa lampau sebagai suatu pijakan sebagai suatu alasan atas bentuk yang akan muncul, arsitektur yang ikonik sebagai strategi mencapai rancangan yang simbolik dan timeless, Arsitektur yang ramah yaitu sangat memperhatikan segala aspek lingkungan materiality maupun immateriality.

Pengaruh konsep desain terhadap lingkungan adalah bangunan mampu beradaptasi dengan site baik secara kebutuhan ruang pada cowork, bentuk bangunan yang sudah terprogram berdasarkan filosofi penataan ruang adat jawa tengah maupun secara fungsi yang mampu mewadahi kegiatan – kegiatan yang ada pada lokasi tersebut. Pemilihan material pun sangat diperhatikan dari sisi terbangun dan maintenance, dimana pemilihan warna pada calm pitch menjadi aksen yang ramah sebagai salah satu respon terhadap filosofi bangunan yang apa adanya. Selain itu program ruang mencoba menjawab kebutuhan – kebutuhan yang belum tersedia maupun yang belum maksimal sehingga desain ini hadir sebagai respon atas setiap kebutuhan pada lokasi tersebut.

Elemen yang paling mempengaruhi desain adalah site yang “Kaya”. Site berada pada lokasi yang mempunyai nilai – nilai lokal yang kuat, sejarah yang penuh cerita juga filosofi – filosofi yang sangat dihargai.

Metode penelitian dimulai dari mempelajari literatur tentang Ruang publik dalam arsitektur, Arsitektur kontemporer Indonesia , Arsitektur Jogjakarta , Arsitektur dalam konteks budaya dan kebiasaan Mahasiswa, pelajar, pekerja, masyarakat juga komunitas dalam ruang ruang di Jogjakarta dan diakhiri dengan brainstrorming pada site lalu mengeksekusinya.

Selain dari literatur-literatur di atas, sumber informasi juga di dapatkan dari beberapa kegiatan ekskursi dan seminar beberapa waktu di beberapa arsitek seperti Ardhyasa Fabrian Gusma, Kim Eui Young, Yori Antar tentang bagaimana budaya hadir sebagai ruang publik.

Beberapa pertanyaan utama yang diajukan adalah Bagaimana cara menjadikan arsitektur lokal sebagai dan menerapkannya dengan konteks kekinian, apa saja yang berpengaruh terhadap pertimbangan perancangan, Bagaimana menciptakan sebuah desain yang simbolik dan timeless, dll.

Metode Penelitian yang dilakukan adalah dengan banyak membaca beberapa literatur, kunjungan pengamatan ke beberapa karya terkait, Dan bertanya jawab dengan narasumber.

Kesimpulan yang didapat bahwa butuh kreatifitas tinggi dan berbagai pertimbangan untuk mendesain sebuah karya Arsitektur kontemporer karena Arsitektur Nusantara ternyata mempunyai nilai-nilai yang telah diterapkan sejak dulu juga merupakan hasil sebuah pemikiran kuat yang berlarut.

Teras-Sharing “A Place for Sharing Culture of Sharing”

Presentation Board