Zulkifli Yuanata - Desain Interior

PERANCANGAN PUSAT KESENIAN MINANGKABAU DI JAKARTA

Nama : Zulkifli Yuanata
Universitas : Institut Teknologi Bandung
Jurusan : Desain Interior
Tema : PERANCANGAN PUSAT KESENIAN MINANGKABAU DI JAKARTA
Penghargaan : Gold Award, 2017
Kategori : Desain Interior

Project Description

Manusia adalah makhluk yang diciptakan tuhan sebagai satu-satunya makhluk yang berbudaya, dimana kebudayaan memiliki pengertian sebagai seluruh sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan manusia dalam proses belajar (Koentjaraningrat).

Adat Minangkabau pada dasarnya sama seperti adat pada suku-suku lain, tetapi dengan beberapa perbedaan atau kekhasan yang membedakannya. Kekhasan ini terutama disebabkan karena masyarakat Minang sudah menganut sistem garis keturunan menurut Ibu, matrilinial, sejak kedatangannya di wilayah Minangkabau sekarang ini. Kekhasan lain yang sangat penting ialah bahwa adat Minang merata dipakai oleh setiap orang di seluruh pelosok nagari dan tidak menjadi adat para bangsawan dan raja-raja saja. Setiap individu terikat dan terlibat dengan adat, hampir semua laki-laki dewasa menyandang gelar adat, dan semua hubungan kekerabatan diatur secara adat. Nilai falsafah kebudayaan itu kurang terjaga, terbukti dari minimnya pelestarian dan pembakuan yang membuat kebudayaan seolah masih mencari bentuk. Hasil- hasil budaya lokal Indonesia tidak terdokumentasi dengan baik, sehingga masyarakat Indonesia sendiri mengalami kesulitan dalam mempelajari budaya sendiri.   Secara umum tujuan dari dirancangnya fasilitas ini adalah sebagai pusat informasi tentang budaya dan kesenian minangkabau, juga sekaligus sebagai tempat pelestarian budaya dan penjaga keaslian nilai budaya minangkabau itu sendiri Penelitian dilakukan dengan pengumpulan data kuantitatif sebagai tinjauan teknis perancangan dan informasi tentang kebudayaan minang, dan pengumpulan data kualitatif sebagai referensi tambahan.

Setelah proses pengumpulan data, analisa dilakukan dengan tujuan mengidentifikasi permasalahan- permasalahan yang ditemui terutama yang berkaitan dengan perancangan interior. Proses kreasi berada dalam tahap ini, yaitu tahap dimana permasalahan yang ditemui sebisa mungkin diselesaikan dengan pembuatan program perancangan dan konsep desain yang paling sesuai. Program perancangan serta konsep desain tersebut kemudian di implementasikan melalui konsep di setiap elemen ruang dengan tujuan menghasilkan dialog antara ruang dan pengguna yang disampaikan melalui suasana ruang yang dibangun sesuai dengan tujuan dari dirancangnya fasilitas tersebut.

Desain Furniture pada area Lobby (Area Reseptionis) mengambil dari bentuk tanduk kerbau yang mencirikan khas minangkabau. Dengan meminimalis bentuk tanduk kerbau yang lancip menjadi tumpul. Untuk meningkatkan suasana minagkabaunya penulis juga banyak menggunakan motif-motif minangkabau yang ada di rumah gadang untuk di terapkan pada furniture dan lantai. Pada area sirkulasi dari entrance menuju area duduk terdapat kolom miring. Yaitu mengambil dari bentuk façade Rumah Gadang yang memiliki kolom miring yang berfungsi untuk menangkal angin / bencana alam.

Pada bagian lobby terdapat telah di implementasikan konsep matrilineal yaitu dengan sifat dinamis, feminin, dan tidak kaku. Di bagian lobby ini ada beberapa image / unsur yang di masukan. Salah satunya yaitu bentukan tabuik. Tabuik sendiri adalah tradisi setiap tahun yang diadakan di kota Pariaman, dan di gabungkan dengan image rumah gadang dengan kolom miringnya yang berfungsi untuk menahan terpaan angin yang kuat. Selain itu pada bagian lantai juga menggunakan motif dari ciri khas rumah gadang. Pada denah terlihat 2 sirkulasi, yaitu sirkulasi biasa dan sirkulasi untuk disabilitas menggunakan ramp.

Bagian auditorium, nantinya akan ada beberapa fasilitas seperti penampilan musik tradional, musik modern, talk show, kelas, penampilan tari. Jadi nantinya pada area auditorium akan sering digunakan. Untuk konsepnya sendiri yaitu mengibaratkan dengan interior rumah gadang. Rumah gadang memiliki ceiling yang terbuka, sehingga konstruksi dari terlihat dengan jelas. Jadi penulis juga menerapkan ceiling terbuka di sebagian tempat. Yaitu pada bagian panggung, jadi akan terlihat besi-besi atau konstruksi tempat lampu, konstruksi tirai. Pada bagian dinding, penulis menerapkan bentukan alam, yaitu bentukan ngarai sianok, seperti bebukitan yang banyak. Penulis membuat dinding auditorium seperti kontur-kontur bukit.

Pada bagian Auditorium, untuk penampilannya tidak semata-mata untuk penampil musik tradisional. Melainkan juga bisa di gunakan untuk penampil musik modern, seperti musik jazz, musik blues dll. Menggunakan sistem garden. Karena untuk panggung auditorium ini sudah memiliki dekorasi panggung builtin untuk pemusik minangkabaunya. Makanya pada bagian panggung menggunakan garden. Di saat gardennya di tutup dapat di gunakan untuk para musisi modern. Beda dengan saat panggung terbuka maka akan memperlihatkan dekorasi minangkabau dengan image minangkabau yang cukup kuat dan hanya bisa digunakan untuk para penampil minangkabau.

Solusi desain tersebut menjadi sebuah konsep desain yang mendasari seluruh keputusan dalam proyek ini. Dimulai hingga penetapan konsep ruang yang sesuai untuk kegiatan utama dalam pusat informasi kesenian minang, hingga permasalahan bagaimana caranya membangun suasana yang sesuai dan dapat mengakomodasi kegiatan di pusat informasi kesenian minang ini.

Presentation Board